Entah kenapa, di masa kanak-kanak saya sangat tertarik kepada satwa jenis serangga. Saya sering melakukan pengamatan dan penelitian amatiran terhadap perilaku serangga, sampai-sampai sengaja memelihara mereka secara khusus. Jenis serangga yang saya pelihara di antaranya semut, rayap, lalat, nyamuk, kecoak, belalang, jangkrik, kumbang, lebah, kupu-kupu, kunang-kunang, kalajengking, dan laba-laba.
Mengenang masa kanak-kanak itu, saya boleh sedikit bangga atas naluri ilmiah saya. Tak keliru memang jika serangga menjadi favorit saya. Di antara segenap makhluk hidup di atas bumi ini, serangga ternyata paling banyak jenis dan populasinya - mencapai kuintiliunan (1 kuintiliun = 1 x 1030). Wajar saja jika mereka paling menarik perhatian.
Namun, di balik rasa bangga itu terselip pula rasa malu. Soalnya, dalam pilihan objek studi serangga dulu saya sempat keliru juga. Menurut kaidah resmi biologi, sebenarnya laba-laba tidak termasuk kelas serangga, namun Arachnida.
Untung keliru saya tidak sendirian, sebab narasumber berwibawa nan bonafid seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi kedua cetakan kedua 1993 menyebut, labah-labah sebagai serangga besar (padahal bukan serangga dan ada yang berukuran kecil sampai cuma 0,1 cm!) berkaki delapan berwarna abu-abu kehitaman (padahal ada yang cokelat, merah, putih, hijau, atau kombinasi, juga berbintik-bintik, loreng, bahkan transparan!).
Dalam bidang biologi kayaknya KBBI memang perlu ditinjau dan disusun secara lebih akurat dan konsisten. Simak saja bagaimana misalnya di halaman 549 KBBI edisi 1993, tertulis bahasan atas kata labah-labah. Namun di halaman 433, di dalam bahasan atas kalajengking, tertulis laba-laba tanpa huruf "h". Maka absah sajalah jika saya sendiri lebih senang menggunakan nama laba-laba ketimbang labah-labah. Lebih pendek, lebih praktis, dan lebih efisien. Jika dihitung-hitung menghemat dua huruf.
Jika labah-labah keliru disebut serangga besar, ternyata kalajengking juga keliru jika dianggap sebagai serangga kecil. Arachnida bisa tumbuh sampai mencapai ukuran 18 cm!
Masih dalam KBBI (halaman 548), kutu juga kurang layak disebut serangga parasit karena satwa mungil anggota keluarga Acari ini juga memiliki delapan kaki yang merupakan salah satu ciri-ciri kelas Arachnida. Sementara di sisi lain, ciri-ciri serangga justru berkaki enam. Hanya dalam phylum, baik laba-laba, kalajengking, kutu maupun semut, atau jenis serangga lainnya memang memiliki kesamaan; semuanya termasuk bagian pokok arthropoda (binatang beruas). Yang penting disadari adalah laba-laba, kalajengking, atau sang kaki seribu bukanlah serangga.
Maka bisa saja jumlah segigantis sampai nilai kuintiliun itu berlebihan alias keliru, akibat yang bukan serangga tapi keliru dianggap serangga ikut terhitung. Namun, tanpa laba-laba dan kalajengking pun, serangga tetap merupakan kelas margasatwa pemegang rekor paling banyak dan beraneka ragam jenis. Jumlah saat ini (sementara karena pasti masih banyak yang belum teridentifikasi para biolog) meliputi sekitar 600.000 jenis yang merupakan sekitar dua per tiga jenis satwa yang dikenal di marcapada ini. □
(Sebuah artikel oleh Jaya Suprana dalam rubrik KeLiRuMoLoGi JAYA SUPRANA, Majalah Intisari Edisi April 2003)
